ORGANISASI

Tahukah anda? bahwa saat SD sampai SMK, saya tidak pernah mengikuti organisasi. Jangankan mengikuti, kenal saja tidak. Pokoknya kalau kegiatan ekstrakurikuler saya jarang ikut. Tahu kenapa? malu. Saya pendiam waktu sekolah. Bersosialisasi sangat susah, jangankan bersosialisasi yang banyak orangnya, ngomong berdua aja sama orang sudah malu. 

Kalau istrahat, yang lain pada nyari teman untuk kumpul-kumpul, malah saya diam sendiri di kelas atau menyendiri dari teman-teman. Sumpah, saya dulu sangat-sangat tidak percaya diri. Hanya kelebihan saya yaitu bisa dalam mata pelajaran Matematika. Kemampuan bahasa saya sangat rendah sekali.  

Saat masuk kuliah semester satu lebih-lebih. Saya tidak bisa berbicara depan kelas, maksudnya berbicara dengan bahasa sendiri. Sungguh sangat grogi. Saat teman lain begitu mudahnya mengeluarkan pendapatnya, saya terkagum-kagum. Coba saya seperti itu, pikir saya dulu. Sampai saya pernah diketawain orang karena bicara tidak nyambung. Saya sama sekali tidak kepikiran untuk berorganisasi agar kemampuan komunikasi saya lebih baik, tidak. Saya mengalir, jalani perkuliahan. 

Suatu ketika, saya diajak teman mengikuti organisasi keagamaan. IMM. Tapi saya tidak kepikiran dan tidak tahu bagaimana itu berorganisasi. Yang dipikiran saya, teman mengajak ikut belajar yang kegiatannya itu sholat bareng, belajar Al-Qur'an dan sebagainya. Setelah mengikuti, berbulan-bulan kemudian saya baru menyadari dan mengerti bahwa saya masuk diauatu organisasi. 

Yang namanya beraosialisasi, berorganisasi, apa segala macam, saya tidak tahu, benar-benar memulai dari nol dan hanya bisa mendengarkan. Kaya orang bodoh-bodoh gitu. Benaran. Lalu saya berproses, belajar dan mengikuti jenjang perkaderan di organisasi, mulai sering baca buku, ikut kajian, diakusk, maka disitulah awal mula saya bisa berbicara dan mengeluarkan pendapat saya miniml di dalam kelas. 

Ternyata asyik ya. Teman-teman saya terkagum-kagum padahal bagi saya biasa saja. So, saya sangat berterimakasih. Dan saya tidak ingin berhenti belajar dan berproses. Jangan tanya seberapa sering saya melakukan kesalahan dalam berkomunikasi? sebab jumlahnya tidak terhitung. Tapi saya belajar dari kesalahan itu. 

@Asrina

Komentar

Postingan Populer