Cinta Tanpa Syarat
Suatu ketika, Aku sedang dilanda masalah. Orang-orang pada memperbesarkan dan mempermalukanku. Aku bingung harus bagaimana. Hanya air mata yang mengalir. Adakah orang yang mau bersamaku ketika berada dalam kondisi seperti itu? Ada. Dia Mamaku. Saat Aku mencoba menutup telinga, tak ingin mendengarkan fitnah tersebut, sesaat itu, seorang wanita yang telah melahirkanku menelpon. Dialah yang memberikanku solusi pada saat itu, atas kehendak Allah. Sungguh, Aku gagal atau tidak, beliau tetap menganggapku sebagai anaknya. Sungguh luar biasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Itulah cinta tanpa syarat, yang tiada batasnya.
Aku duduk berdua dengan Mama di dapur. Kami memasak bersama. Pada moment-moment seperti itu, biasanya kami sering bercerita. Lalu Aku sampaikan pada Mama beberapa impianku. Sontak, ia kaget dan terpancar senyuman di wajah yang mulai keriput itu. Menambah semangat untuk tetap menyekolahkanku sampai selesai. Sungguh, Mama begitu tangguh. Walaupun sekolahnya hanya sampai Sekolah Dasar, tapi beliau mengerti akan suatu pendidikan bahwa itu penting.
Aku adalah anak bungsu. Sejak kecil Aku merasakan kasih sayang Mama dalam pelukannya. Menggendongku, mendukungku, dan memfasilitasiku saat Aku beberapa kali mengikuti suatu lomba, sehingga Aku mendapatkan prestasi. Dan hasilnya, saat ini Aku tidak mau berhenti untuk berprestasi. Walaupun beliau tidak terlalu memujiku, tapi Aku paham bahasa kasih Mama. Selain itu, kulakukan untuk diriku, berkarya dan bertanggung jawab. Aku bahagian dan senang.
Mamaku tidak mengerti teknologi. Maklum orang kampung. Mama juga tidak pernah kulihat membaca. Mungkin, jika Mama mengerti akan semua iti, betapa bangga dan terharunnya beliau saat Aku membanggakannya sebagai Mamaku. Tapi, suatu saat ia akan paham akan semua ini. Inilah kasih sayang Mama padaku. Terbayang suatu saat ketika Aku diberikan keturunan dan menjadi seorang ibu. Betapa indahnya mendidik anak.
I love you, Mom😘
@ Asrina

Komentar
Posting Komentar