R.A KARTINI & EMANSIPASI WANITA
R.A Kartini atau Raden Ajeng Kartini adalah wanita pahlawan bangsa yang memperjuangkan emansipasi wanita di pribumi. Yang pada saat itu budaya patriarki begitu kental, membuat wanita-wanita tidak berkembang, tidak dapat bersekolah. Kartini berasal dari keluarga bangsawan, jadi ia begitu beruntung bisa bersekolah. Pemikirannya begitu luas karena sering membaca.
Wanita pribumi yang sudah menikah, akan dinamakan Raden Ayu. Jadi setelah Kartini menikah namanya menjadi Raden Ayu Kartini. Kartini meninggal di usianya yang ke 25. Menurut sejarah, kematian Kartini memang sudah direncanakan akan membunuhnya, namun ada juga yang mengatakan itu disebabkan karena proses kehamilannya. R.A. Kartini memperjuangkan Emansipasi wanita. Yaitu dengan mendirikan sekolah wanita. Agar bagaimana wanita dapat sekolah setinggi-tingginya.
Bagaimana pandangan Islam mengenai Emansipasi Wanita?
Emansipasi wanita menurut pandangan islam adalah mendudukkan wanita setara sebagaimana laki-laki, Namun tidak bertentangan dengan fitrah dan kodratnya sebagai wanita. Ini kutipan dari artikel yang pernah saya baca. Karena islam menjelaskan antara laki-laki dan perempuan memiliki hak dalam berbagai hal. Salah satunya wajibnya menuntut ilmu baik muslimin dan muslimah, maka perempuan pun memiliki hak akan hal ini, kemudian di bindang-bidang lainnya semisal politik, sosial, dan sebagainya asalkan wanita tidak boleh meninggalkan peran dan kewajibannya sebagai istri atau ibu.
Masih perluka Emansipasi Wanita di era sekarang ini?
Baik, sebelum saya menuliskan pandangan saya mengenai hal ini, maka terlebih dahulu saya menuliskan pandangan dari artikel yang perah saya baca, bahwa 'Emansipasi', jika tidak dimaknai dengan bijak, maka akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, yaitu dapat menyaingi kaum lelaki atau berkarir tapi melupakan kewajibannya sebagai wanita. Jadi ketakutan atau kewaspadaan dari kata emansipasi.
Pandangan saya; Emansipasi wanita sebelum kemerdekaan memang patut diperjuangkan karena kondisi perempuan pada waktu itu berbeda dengan sekarang. Jika dulu perempuan tidak dapat sekolah, dunianya hanya bergelut di dapur, sumur, dan dikasur, kalau sudah remaja akan dipingit, lalu menikah, sekarang wanita bebas, bebas berkarya, bersekolah, dan berekspresi. Tidak ada lagi orang yang menindas, kecuali bagi orang-orang yang masih belum meninggalkan budaya Patriarki yang kerap wanita yang dirugikan.
Alhamdulillah, saya menemukan kutipan tulisan seorang teman di Quora, namanya Arini Soesatyo Putri. Bahwa,
Apa yang masih perlu diperjuangkan perempuan-perempuan di Indonesia dalam konteks kemerdekaan?
Memerdekakan diri dari stigma sosial, hukum adat, dan rasa tida percaya diri dalam berkompetisi.
Jadi, Emansipasi wanita di era ini tidak perlu, karena sudah ada hak wanita untuk bisa bersekolah dan berkarya. Bahkan presiden pernah diduduki seorang perempuan. Yang perlu diperjuangkan untuk wanita saat ini adalah kutipan di atas tadi.
@ Asrina


Komentar
Posting Komentar